Cari Blog Ini

Subscribe:

videovideo


Labels

Powered By Blogger

Rabu, 02 November 2011

Melihat Lebih Dekat Sekolah Pasar Modal PIPM

Efektif Lahirkan Investor dan Broker Baru di Lampung
Mungkin banyak masyarakat Lampung yang belum familier dengan cara berinvestasi di pasar modal. Nah, sejak hadir pada November 2009 lalu, Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) aktif menggelar Sekolah Pasar Modal (SPM) gratis.

Laporan Eka Yuliana, BANDARLAMPUNG


PIPM memiliki tugas yang cukup berat. Yakni menyosialisasikan pasar modal kepada masyarakat yang sebagian besar masih awam. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menggelar SPM. Kegiatan tersebut gratis dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengikutinya. Seperti yang Radar Lampung ikuti kemarin (1/11).


Di sebuah ruangan yang berada di lantai 4 kantor PIPM di Jalan Jenderal Sudirman, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, berkumpul sekitar 20 orang yang berasal dari berbagai latar belakang dan usia. Meraka berada di ruangan tersebut untuk mengikuti SPM angkatan XV tahun 2011.

    SPM adalah sekolah yang digelar PIPM Lampung sebagai salah satu cara menyosialisasikan pasar modal. Di sekolah yang dilaksanakan selama dua hari secara gratis ini, peserta diberi materi-materi dasar terkait dunia pasar modal.

Yakni mulai materi tentang pengenalan investasi, struktur pasar modal, juga pengetahuan umum tentang apa itu efek dan reksadana serta mekanisme transaksi efek.

Pesertanya pun berasal dari berbagai macam profesi, mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, wiraswasta, hingga karyawan. Mereka  ’’dicekoki’’ materi pengetahuan tentang analisis fundamental dan teknikal yang disajikan oleh perusahaan sekuritas.

Keingintahuan mereka tentang dunia ini pun sangat tampak dari keaktifan mereka bertanya. ’’Apakah penasihat investasi harus dimiliki?’’ ucap seorang wanita berjilbab, salah satu peserta SPM XV. Pertanyaan-pertanyaan lainnya pun terus meluncur dari peserta terkait materi yang disampaikan.

Mentor sekaligus Staf Kepala PIPM Lampung Fismayati Cholifah mengatakan, SPM akan digelar satu kali lagi, pada 29-30 November mendatang. ’’Tahun ini memang antusiasmenya cukup tinggi dibandingkan tahun lalu. Bahkan peserta harus waiting list,’’ ujarnya.

Selama SPM digelar, menurutnya, minat PNS untuk mengikuti tergolong sangat rendah. Tujuan SPM ini sendiri lebih ke edukasi. Hasil dari SPM ini sekuritaslah yang merasakan. Sebab, banyak yang setelah mengikuti SPM tertarik untuk menjadi investor. Meski terdapat juga beberapa yang berminat untuk berprofesi di dunia ini.

’’Jika ingin menjadi investor, silakan mereka langsung menghubungi sekuritas, kemudian membuka rekening. Kami dapat dijadikan fasilitator atau konsultan,’’ terangnya. Namun bagi yang ingin menekuni profesinya dapat mengikuti ujian profesi.

Terdapat tiga pilihan profesi. Yakni wakil perantara pedagang efek (WPPE) atau pialang saham (broker). Kemudian wakil penjamin emisi efek atau underwriter dan wakil manajer investasi.

    Hasil dari pelaksanaan SPM ini secara nyata telah terbukti. Untuk transaksi misalnya, hingga September tahun ini tercatat sebanyak Rp632,116 miliar. Sementara pada tahun 2010 lalu, jumlah transaksi hingga September hanya mencapai Rp545 miliaran. Begitupun dengan jumlah investor, total per September lalu penambahan telah mencapai 360 orang.

Salah satu peserta SPM yang menjadi investor adalah Tuti Harijani. Ibu rumah tangga dengan dua anak ini sejak November lalu telah memilih jalur investasi di dunia pasar modal.

Pemilik usaha brownies panggang yang hanya lulusan SMA ini sebelumnya buta tentang pasar modal. Namun berkat SPM, ia mengetahui banyak.

Sementara di kota-kota besar, broker menjadi profesi yang paling diincar. Seperti yang dituturkan perwakilan PT Kim Eng Sekuritas, sekuritas asing dari Singapura, Nur Rosyidah. Menurutnya, Indonesia membutuhkan banyak broker. Namun, SDM (sumber daya manusia) yang dimiliki sedikit. Terlebih lagi untuk Lampung yang baru dua tahun disosialisasikan dengan gencar.

’’Bahkan untuk Jakarta pun kekurangan. Dengan potensi penghasilan tinggi, peminatnya sangat banyak. Tetapi, SDM yang ada mempunyai pengetahuan yang kurang. Sebab hingga kini rata-rata kelulusan ujian untuk menjadi seorang broker baru 20 persenan,’’ terang alumnus FISIP Unila ini.

Perempuan berjilbab itu mengatakan, seorang pialang memiliki posisi tawar yang masih tinggi. Bahkan lebih tinggi dari posisi perusahaan yang mencari jasanya.

Ia menjelaskan, untuk standar gaji seorang pialang yang memiliki sertifikat lulus WPPE sekitar Rp3 juta. Penghasilan tak terbatas berasal dari bagi hasil dari transaksi yang ia lakukan.

’’Perhitungannya menggunakan sistem bagi hasil. Misalnya seorang broker dari seorang investor melakukan transaksi selama satu bulan mencapai sepuluh miliar, lalu diambil fee untuk perusahaan sekuritas tempat ia bernaung, misal 0,19 persen. Nah, fee itulah yang akan dibagi dua antara perusahaan sekuritas dan broker. Itu hanya dari satu nasabah. Jadi bisa dibayangkan berapa penghasilannya jika transaksi per hari rata-rata dua miliar dari satu investor saja,’’ paparnya.

Salah satu broker senior asal Lampung, Saidu Solihin, membenarkan jika profesi broker memang sangat menggiurkan dari segi penghasilan.  ’’Saya dari 1997 menjadi broker. Tetapi kalau main saham dari tahun 1995, waktu jadi mahasiswa,’’ katanya. Dengan hanya bermain saham pun menurutnya telah membuat ia menjadi mahasiswa yang lumayan kaya.

’’Broker itu tidak melihat karir, yang ada di kepala hanya penghasilan,’’ kata pria kelahiran 1975 ini. Saidu mengakui penghasilan yang ia dapatkan dengan menjadi broker hingga ratusan juta per bulannya. (c1/ary)
Sumber : http://www.radarlampung.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar